160 

From "Dugem" to "JOIN", Mari Berdiskusi

Haus akan ilmu pengetahuan seharusnya menjadi kebutuhan mahasiswa yang utama, bukan lainnya. Sebagai kaum pembelajar dengan predikat agent of social change, masyarakat menaruh harapan besar bahwa mahasiswa seyogianya menjadi salah satu dari elemen bangsa Indonesia di garda terdepan yang menggulirkan perubahan sosial yang baik dan benar sehingga Indonesia mampu bersaing dengan bangsa lainnya di dunia.

Harapan masyarakat itu tidak keliru, berdasar pada sebuah rujukan berupa sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia telah tercatat sejak awal abad ke-19 sampai pada hari kemerdekaan republik Indonesia (17 Agustus 1945) kaum muda terdidik yang didominasi pelajar, santri  maupun lulusan kampus atau lembaga pendidikan yang ada dari dalam dan luar negeri ketika itu berkolaborasi dengan para tokoh nasionalis (para tokoh yang berada dilingkup organisasi perjuangan kemerdekaan Indonesia), tokoh agama (ulama atau pemuka agama yang ada di Indonesia) dan para rakyat pemberani, bahu membahu merpertaruhkan jiwa dan raga demi  merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Peran kaum pembelajar jelas terlihat dari gagasan-gagasan maupun strategi yang selanjutnya direalisasikan menjadi sebuah gerakan bersama elemen bangsa lainnya untuk meraih cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Setelah kemerdekaan diraih tidak berarti perjuangan berhenti, tantangan perkembangan zaman dengan kemajuan teknologi yang berdampak pada setiap lini kehidupan berpotensi melahirkan masalah-masalah yang harus diselesaikan. Dari situlah peran aktiv mahasiswa dalam menjawab tantangan berbangsa dan bernegara sangat dibutuhkan, karena mahasiswa berada diantara pemerintah dan masyarakat.

Orang bijak mengatakan “perjuangan adalah realisasi dari ide”, ide dimaksud merupakan hal yang positif dan membawa manfaat bagi publik. Munculnya ide-ide cemerlang tidak dimulai dari ruang hampa, melainkan melalui proses belajar dengan sunggung-sungguh.

Usaha untuk memicu lahirnya ide-ide cemerlang itu dilakukan Pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Hukum Ekonomi Syariah (HES) dengan menjaga keberlangsungan diskusi sebagai salah satu program kerja andalan yang sebelumnya dikemas dengan nama “DUGEM” (Duduk Gembira) menjadi “JOIN” (Jagongan Intelektual). Perubahan nama diluncurkan setelah diskusi berjalan beberapa bulan kemudian dievaluasi, sebagian pengurus menilai “dugem” memiliki konotasi yang kurang pas jika dikaitkan dengan forum kajian atau diskusi. Oleh sebab itu akhirnya disepakati untuk mencari nama baru yang lebih tepat dan akhirnya muncul “JOIN”.

Rutinitas diskusi tetap berlangsung meskipun mahasiswa telah dirumahkan karena adanya pandemik covid-19 belakang ini. Adapun tema terbaru yang diangkat yaitu “Kebijakan Pemerintah Dalam Mengatasi Masalah Perekonomian Pada Pandemik Covid-19” dengan dosen pemantik Eni Kusrini, S.EI., M.E.    

(KUA.red)


Lampiran Foto



Agenda Kegiatan
  • Seminar Nasional Prodi HES

    +

    Seminar Nasional "Kompilasi Hukum Ekonomi Syari

Video

Back to Top