24 

Mahasiswi Fakultas Syariah Ikrarkan: "Saya, Perempuan Anti Korupsi"

Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK) merupakan sebuah gerakan yang diluncurkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) era Busyro Muqoddas. Munculnya gerakan ini setelah KPK mengadakan sebuah survey pada tahun 2012 – 2013 di kota Solo dan Jogjakarta. Studi ini menyajikan fakta bahwa ternyata hanya 4% orang tua yang mengajarkan kejujuran pada anak-anaknya. Kejujuran yang dimaksud bukan kejujuran dalam arti definisi kejujuran, tetapi lebih kepada bagaimana kejujuran tersebut dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Studi tersebut juga memberikan jawaban atas pertanyaan bagaimana mencegah korupsi sejak dini?, bahwa perempuan atau ibu masih dianggap figur sentral dalam memberikan pendidikan moral pada anak dan keluarga. Fakta ini memberikan kesempatan untuk menggerakkan pencegahan korupsi melalui perempuan. Hasil inilah yang kemudian menjadi landasan kuat untuk melahirkan gerakan Saya, Perempuan Anti-Korupsi.

Sampai pada perkembangan gerakannya saat ini, para agen SPAK terdiri dari: ibu rumah tangga, guru, dosen, pengusaha, pengacara, hakim, jaksa, staf pengadilan, staf kejaksaan, pengurus dan anggota PKK, pengurus dan anggota dharma wanita, PNS, istri polisi, istri TNI angkatan udara, istri TNI angkatan darat, istri TNI angkatan laut, LSM, istri jaksa, pemimpin agama, pemimpin masyarakat, difabel, wartawan, istri walikota, dll.

Ibu Hariyanti (istri KABIRO AUAK) pengurus dharma wanita IAIN Kudus sebagai agen SPAK menyampaikan misinya di Fakultas Syariah. Untuk menyebarkan pengetahuan antikorupsi kepada para mahasiswi, sebagai agen ia dibekali alat-alat bantu, yang terdiri dari: tas, buku,  pin, kaos, notes, flyers, dan permainan (arisan, majo, dan put2lk). Semua permainan ini, ada cara main dan kunci jawaban, sehingga tidak perlu khawatir. Hariyanti berkata bahwa “Dalam permainan ini kita tidak berbicara mengenai hal-hal korupsi tetapi kita berbicara mengenai 9 nilai yang berdasarkan studi yang dilakukan oleh KPK, dipercaya dapat menghindarkan kita dari perilaku-perilaku koruptif. Kesembilan nilai yang dimaksud, adalah: kejujuran, keadilan, kerjasama, kemandirian, kedisiplinan, bertanggungjawab, Kegigihan, keberanian, dan kepedulian. Saya berharap sebagai ibu nantinya para mahasiswi alumni IAIN Kudus berani menyatakan; SAYA, PEREMPUAN ANTI KORUPSI, atau tidak perlu menunggu jadi ibu mari kita ikrarkan dari sekarang”.


Lampiran Foto



Back to Top